Saturday, 4 February 2012

Apa yang Aku Dapat?

Sudah tiga tahun aku menelusuri bait-bait kalam musafir ini. Berada di perantauan fanaa yang sementara, ibarat kehidupan dunia. Setelah kumeninggalkan memori-memori silam di pondok pesantren (ponpes) Al Anwar Pacul Gowang pada awal tahun 2009, kutempuhi perjalanan perantauan ini dengan warna-warni dan haru-biru realitas duniawi. Tanpa terasa mungkin 2012 ini tahun terakhirku di Kelantan Darul Naim, Malaysia.

Baru-baru ini, aku sempat mengobrol dengan seorang sahabat seniorku dari Al Anwar. Dia bertanya tentang keadaanku di sini, bagaimana dengan pengajianku di sini. Aku jawab terus terang, lancar-lancar saja. Insyaallah tahun depan aku akan memasuki tahun pertama untuk sarjanaku (S1 / Degree). Aku jawab begitu sebab sekarang aku sedang berada di dalam ‘lingkaran masa’ STAM / Pra-university, dan akhir tahun ini akan mengambil peperiksaan STAM. Kan STAM setaraf dengan diploma?

Kemudian dia bertanya pula, “Sudah bisa buat apa?” Pertanyaan yang benar-benar menusuk relung hatiku. Yang selama ini jarang dan bahkan belum aku temui sahabat yang bertanya perkara seperti ini kepadaku. Spontan aku tidak langsung menjawabnya. Maaf, bukannya aku tersinggung atau marah, malah aku sangat berterima kasih. Melalui satu persoalan itu aku tersadar dari igauan, bahwa kalam musafirku ini mempunyai misi yang besar. Terlalu berat untuk kuhadapi sendirian. Dan masih terlalu jauh dari kata sukses atau berjaya.

Seandainya aku jawab aku sudah bisa jadi Imam, baca khutbah, pimpin tahlil, solat gerhana, solat jenazah dan lain-lain pastinya semua sahabatku di Al Anwar juga bisa melakukannya. Tak perlu merantau jauh-jauh ke luar negara! Aku sangat bersyukur pernah menjadi bagian dalam deru nafas perjuangan Al Anwar. Al Anwar, berkat didikannya-lah aku berhasil sampai pergi sejauh ini. Berkat ilmunya-lah aku mengenal Islam lebih mendalam. Al Anwar dan juga ponpes-ponpes lain di Indonesia, di Jawa khususnya, mereka adalah gudang-gudang mutiara ilmu yang takkan pernah habis untuk diambil.

Aku bangga, orang di sini sangat arif dan mengakui kehebatan ponpes-ponpes kita! Kalau boleh aku katakan, ponpes-ponpes di Indonesia sama hebatnya dengan institusi-institusi masyhur di Timur Tengah. Ini semua bukannya tanpa asas. Coba lihat kitab-kitab yang diajar dan ditelaah di ponpes-ponpes tersebut, ia 100% tulisan dalam bahasa Arab dan setaraf dengan kitab-kitab yang dikaji di Timur Tengah. Sebut saja Bulughul Marom, Tafsir Ibnu Katsir, Alfiyah Ibnu Malik, Fathul Mu’in, Al Hikam, Al Iqna’ dan lain-lain, pasti semua kenal! Ia juga berhasil melahirkan beribu-ribu ulama yang masyhur di Nusantara. Inilah hebatnya ponpes kita!

Namun kawan, sadarkah kalian? Ada satu virus berbahaya yang mungkin tak pernah kita sadari kehadirannya. Percaya atau tidak, ia telah bercengkeram di tanah air kita sejak bemulanya zaman penjajah dahulu kala. Ya, ketika itulah Islam dan negara kita diporak-porandakan oleh penjajah. Mereka berhasil menyihir dan ‘memodifikasi’ Islam yang sekian lama bertapak di Indonesia sejak zaman Wali Songo itu.

Inilah yang aku dapat dari setiap langkah kalam musafirku ini. Ku sangat berharap agar kalian dapat menerima pendapatku ini. Setidaknya, selama tiga tahun kumenelusuri setiap jejak tapak bumi Serambi Mekah ini aku dapat mengenal apakah itu perjuangan menegakkan Khilafah Islamiyah. Aku tahu seperti apakah aurat muslimat yang benar-benar dikehendaki oleh Allah swt. Aku dapat mempelajari hukum-hukum ikhtilat (pergaulan antara lelaki dan perempuan) dan batas-batasnya berdasarkan syariat Islam. Dan yang paling penting, kini diri ini tahu bahwa agama Islam benar-benar agama yang syumul. Ia melingkupi sekecil-kecil perkara (seperti adab istinjak) sehinggalah sebesar-besar perkara (seperti urusan pemerintahan), semuanya telah diatur di dalam Islam! Politik, ekonomi, sosial, sejarah dan lain-lain semuanya tidak dapat dipisahkan dari ruh-ruh Islamiyah. Bukan seperti kata Liberalis, yang menyatakan agama Islam tidak berhak ikut campur urusan politik dan pemerintahan!!!

Namun sejak dulu kita selalu disuapi oleh doktrin-doktrin Islam yang telah ‘dimodifikasi’ oleh penjajah itu. Meski bukan melalui jalan pendidikan namun pengaruh doktrin itu cukup besar dalam kehidupan bermasyarakat. Lihatlah sekarang, berapa banyak muslimat yang sentiasa memakai jilbab ketika mereka keluar di khalayak umum? Berapa banyak yang menjaga auratnya? Padahal menutup aurat itu hukumnya wajib! Berapa banyak pemuda-pemudi kita yang faham arti ikhtilat dan adab-adabnya? Padahal pergaulan lelaki dan perempuan yang terlalu bebas itu dibenci agama! Berapa banyakkah pemuda kita yang benar-benar menghayati perjuangan Islam yang sebenarnya? Maksiat dan kedzaliman setiap waktu mengharu-birukan kedamaian di tanah air kita! Pemerintah pun bodoh, tak tahu dan tak mengerti agama! Maaf kawan, aku sendiri malu mengungkapkan ini semua. Tetapi inilah faktanya, aku cuma ingin kita sama-sama bangkit! Satukan fikrah, iringkan langkah! Sedarlah kawan! Ini adalah tanggung jawab kita semua, selaku generasi penerus perjuangan dakwah Islam di dunia akhir zaman ini!

Mungkin di mata orang lain semua itu hanyalah perkara kecil. Biarlah, tetapi aku tetap bersyukur karena bisa tahu ‘perkara kecil’ itu. Aku belum bisa berbuat apa-apa, hanya melalui tulisan inilah aku berbagi cerita denganmu. Ilmu di dada masih terlalu sedikit. Meskipun begitu, ayo bersama kita meneruskan perjuangan ini. Kita tegapkan langkah, kuatkan keazaman dan ikhlaskan niat!

Tidak kulupa kuucapkan terima kasih kepada sahabatku atas pertanyaannya itu. Aku sadar betapa lemahnya diri ini. Walau begitu, ingatlah, ilmu tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Meski ku berada jauh di sini bukan berarti aku lebih hebat. Karena aku yakin engkau yang berada di tanah air tercinta pasti lebih hebat dan alim. Tanah air yang telah melahirkan ribuan pejuang serta para alim ulama yang telah mengukir sejarahnya yang tersendiri dalam menyebarkan dan menegakkan Kalimatullah di Nusantara ini.

“Ayyuhal Ikhwah, kalian adalah ruh baru yang mengalir di hati ummat, maka kamu yakin menghidupkannya dengan Al Quran! Kalian adalah cahaya baru yang tengah merkah, cahaya itulah yang menyingkap tabir kegelapan dan menggantikannya dengan makrifatullah! Kalian adalah suara yang melengking tinggi dan senantiasa menyenandungkan dakwah Rasulullah! Wahai anak-anak Timur dan Barat! Kaulah tunas harapan, engkaulah generasi yang akan menghancurkan belenggu tirani! Ayyuhal ikhwah, antum arruhul jadeed fii jasadil ummah…”