Wednesday, 19 September 2012

RAN?


“Aduh. banyaknya kerja-kerjaku yang masih terbengkalai..,” gumamku sambil melihat selerakan kertas-kertas kusam yang memuat bahan-bahan untuk menggarap artikel dan cerpen. Terbiar lusuh di dalam timbunan kertas-kertas madah kuliah. Kulirik senarai tajuk projek beberapa artikel yang mesti kusiapkan pada softboard di depanku. Islamisasi Bukanlah Arabisasi, Merdekakah Kita?, Hilangnya Cendekiawan-cendekiawan Muslim dan Menanti Kebangkitan Islam. Semuanya empat tajuk. Ditambah beberapa kerangka cerpen yang belum bertajuk, masih dalam proses pengumpulan beberapa isi dan bahan ‘pemanis’ untuk mengolahnya.

Walaupun hari-hari disibukkan dengan rutinitas kuliah yang padat, kutetap memujuk diri sendiri untuk berusaha memposting beberapa tulisan di alam maya. Sekedar selingan, biar fikiran tak tepu atau jumud. Lagipun pintu-pintu dakwah kan pelbagai, jadi tak ada salahnya kuceburi bidang yang satu ini.

Bagi penulis amateur murahan sepertiku bisa posting karya di blog pribadi itupun sudah cukup membuat hatiku lega, dan bahagia pastinya. Di celah-celah kesibukan itu kukumpulkan sedikit demi sedikit  beberapa bahan yang kuperlukan. Biasanya aku pinjam buku-buku dari kawan-kawan aku. Tempoh masa yang mereka bagi memang lebih lama berbanding dengan perpustakaan yang hanya 2 minggu saja. Itu satu keuntungan kalau dapat berkawan dengan ulat buku. Ya, aku menggunakan kesempatan, bukannya ‘memperguna’ pun.

Tingkap bilik kusibak luas-luas. Kuliat hijau, sejauh saujana mata memandang. Ilalang tampak basah kedinginan. Diam tak bergerak, karena angin belum datang mengajaknya menari. Embun bening pagi laju menyergap pori-pori epidermisku. Sejuk!

Gerimis masih bermain di luar sana. Jatuh beramai-ramai memandikan bumi yang dahaga. Sementara bukit-bukit yang berjajar di sekeliling kawasan ini masih diselimuti kabus yang merendah. Mengaburi pandangan mata. Segerombolan Cumulusnimbus bergelayut di angkasa, sedikit berarak perlahan. Memuntahkan tangisannya.

Di dalam bilik ini, lagu ‘Tekad’ yang disuarakan oleh Izzatul Islam terus berdendang mengusik telinga.  Kurebahkan punggung di atas kursi plastik yang sudah nampak pudar kulitnya. Sambil menghadap laptop Toshiba tua ini.

Bulb!! Tanda hijau di chatting room Facebook-ku menyala.
“Ran?” Perempuan manis berdarah kacukan Jawa-Belanda yang mengutus pesan. Lama benar aku tak berkomunikasi dengannya. Walaupun dia telah menjadi ‘Friend’ tapi sejatinya aku belum pernah chatting dengannya. Bukan apa, sebab dia perempuan non-muslim. Jadi aku fikir tiada apa-apa yang perlu aku tanyakan. Aku takut terpengaruh dengan dakyah-dakyahnya! Itu saja.

Aku mengenalinya di sekolah menengah kami dulu, saat itu dia masih berumur 15 tahun. Lebih muda dua tahun dariku. Kebetulan dia pernah menjadi lawanku di separu akhir saat aku menyertai pertandingan catur peringkat sekolah. Detik itulah aku mulai mengenalnya.

“Ada apa?” balasku.

“Aku tahu kau seorang Muslim. Sebagai orang yang berlainan agama, terlalu banyak perkarta yang ingin aku tanyakan padamu,” Kata-katanya datar. Ku menggeliat memulas kursi. Menanti kata-kata seterusnya.
“Kalian melaksanakan solat wajib 5 kali sehari, kan? Menyembah Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan yang ghaib. Dia Wujud namun tidak berbentuk, tiada sesuatu pun yang menyerupai-Nya.” Sambungnya.

Aku semakin tercengang. Bagaimana Ran tahu semua itu? Jangan-jangan Ran telah mempelajari luar dalam tentang Islam. Sungguh aneh mahasiswa Institut Teknologi Surabaya ini. Aku tetap menanti ayat selanjutnya.

“Tetapi mengapakah kalian menghadap Kakbah? Bukankah itu berarti bahwa kalian menyembah Kakbah? Kalau menyembah Kakbah berarti Kakbah itu berhala.” Dia melontarkan soalan yang benar-benar membuatku terkejut

“Katanya Islam itu agama yang benar, tidak menyembah selain Allah, tapi mengapa kalian melakukannya?” Pertanyaan bertubi-tubi muncul di sreen laptop pemberian ayahku ini. Dahiku  berkerut. Tak henti-hentinya aku menggaru rambut kepalaku yang tidak gatal.

“Argh..bingung juga ya mau jawab soalan begini,” Kubelum berani merespon pesan-pesannya.
“Erm, beri aku sedikit waktu untuk berfikir..” pintaku.

Segera kuraih mushaf terjemahan Al Quran yang tak jauh di sebelah kananku. Kubelek helaian demi helaian. Muka surat 19. Muka surat 22. Kurenung sekejap sambil memanggil-manggil ingatan lama.
Beberapa minit kemudian.


“Baiklah, memang benar kami solat menghadap Kakbah. Itulah perintah Allah kepada kami umat Islam. Buktinya bisa dibaca di dalam Al Quran 2:125 dan juga Al Quran 2:144. Kami, selaku hamba Allah, hanya dengar dan patuh saja terhadap apa jua perintah-Nya. Karena bagi kami, Dia Yang Menciptakan kami, Menciptakanmu dan juga Sang Pencipta seluruh alam semesta ini pastinya lebih mengetahui apa yang terbaik bagi ciptaannya.”

Kucuba menyusun ayat sebaik mungkin. Aku tak ingin membuatnya tersinggung atau berasa sakit hati oleh ayat-ayatku.

Di luar sana mentari muylai merangkak naik. Memanjat cakerawala yang redup. Sudah masuk waktu Duha pastinya. Bau harum tanah yang basah dan rumput hijau selepas hujan menyeruak memasuki rongga hidungku. Segar.

Fikiranku tertumpu kembali. “Kakbah bukanlah berhala, Ran. Ia adalah Kiblat. Sebagai penyatu halatuju seluruh umat Islam di serata penjuru dunia ini. Hakikatnya kami tetap menyembah Allah, Tuhan Yang tiada sekutu bagi-Nya.” Terangku kepadanya. Aku terdiam menanti respon.

Hijau!
“Aku masih tidak bisa menerima jawabanmu itu. Tidak logik langsung!” Sergah Ran.
“Ah.. Susah betul berbahas dengan orang Rasionalist nih..” Aku menggerutu sendiri.
“Bagiku, kalian tetap sama saja seperti penyembah berhala!” Ran kembali menyerangku. Agaknya masih belum berpuas hati dengan jawaban yang aku berikan tadi.

Memang agak susah bagiku untuk menjelaskan perkara agama secara logik. Karena tak semua perintah agama itu bisa dinalar dengan akal. Sebab iman itu mengatasi akal! Akal mesti tunduk kepada iman sekiranya berlaku pertembungan yang sukar dijangkau oleh pemikiran akal. Sebagaimana akal agak sukar untuk mempercayai peristiwa Israk Mikraj yang terjadi hanya dalam masa sekejap saja. Sungguh! Jika tiada pagar-pagar keimanan yang membentengi jiwa raga, nescaya akal akan terus memberontak.

Aku teringat ulasan Syeikh Muhammad Al Ghazali berkenaan akal di dalam salah satu karya agungnya, Warisan Pemikiran Islam Menurut Syarak dan Akal. Beliau berpendapat, di dunia yang sangat luas ini tidak ada lagi sesuatu yang berharga selain akal yang tunduk dan bersujud di hadapan keagungan Allah, seraya berkata : Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Agung.

Baiklah, aku akur. Tapi takkan semudah itu untuk menyerah terhadap intimidasi Ran. Kuselongkar beberapa helaian kertas coretan lama di dalam lemari. Mencari kertas kerja seminar Comparative Religion yang pernah disampaikan oleh Brother Shah Kirit beberapa tahun lepas. Seingat aku dulu beliau pernah menjawab soalan sebegini dengan hujah logik akal.

“Hm..dapat!” Kubaca sejenak tulisan-tulisan buruk yang tercatat di tepi kertas kerja tersebut.
“Oke, aku faham.”
“Baiklah, Ran!. Aku ada beberapa bukti yang rasional yang membuktikan bahwa Kakbah bukanlah berhala.” Jawabku tegas. Aku harap  Allah membukakan pintu kefahaman Ran.
“Jelaskan!” kata Ran.

“Yang pertama, orang Muslim tidak berdosa menaiki bahagian atas atau atap Kakbah. Tentu kau sendiri pernah melihat sebahagian pembesar-pembesar di Masjdil Haram berdiri di atas Kakbah,” Kujelaskan satu per satu.
“Tapi apakah kau pernah melihat penganut-penganut agama selain Islam yang berdiri di atas berhala sembahannya? Pastinya tidak!” Kulontarkan balik paku keras kepada Ran.

Aku menyambung hujah. “Seterusnya, ramai umat Islam yang memijak-mijak gambar Kakbah. Lihat saja sejadah-sejadah bercorak gambar Kakbah yang terhampar di masjid-masjid atau di mana jua. Sekiranya Kakbah itu sembahan umat Islam tentu mereka takkan memijak-mijak gambarnya. Betul?” Aku harap Ran dapat menerima rasionalku ini. Berfikirlah kawan! Semoga hatimu terbuka.

Belum sempat Ran merespon, aku segera mengukuhkan hujah-hujah yang kulontarkan. “Ketiga, sekiranya ada segolongan manusia yang cuba membina Kakbah lain, yang lebih hebat, lebih indah dan lebih megah daripada Kakbah yang berada di Masjidil Haram, nescaya sekali-kali tidak akan ada umat Islam yang memalingkan wajahnya dari Kakbah di Masjidil Haram. Kakbah yang menjadi kiblat umat Islam sejak zaman Rasulullah saw, sehingga kini dan selamanya.”

Aku rasa sudah cukup bagiku mengemukakan tiga bukti yang rasional tersebut. Kalau Ran masih saja bertegang untuk menolaknya, entahlah. Sudah pasti otak ini akan terbantai dengan soalan-soalan maut seperti itu.

“Bagaimana Ran?” Aku cuba memastikan pendiriannya. Sepi. Tiada Jawaban.
“Ran, kau masih ada di situ?” sekali lagi ku bertanya.
“Ya..aku masih di depan laptop ini lagi,” Ran merespon.
“Untuk saat ini aku terima jawabanmu,” Tambahnya.
“Hah, Alhamdulillah!” Bisikku pada hati sendiri. Seakan aku merdeka dari pergelutan hujah-hujah tadi. Anganku melayang, terbang tinggi ke ufuk dunia. Ringan, bagai hilang segala beban!

“Tapi jangan terlalu bergembira dulu.” Ran tiba-tiba mengirim pesan.
Apa? Kata-kata Ran itu seakan merampas senyumku sebentar tadi!
“Aku ingin kau jelaskan padaku seputar fakta-fakta sains kontemporari yang terkandung di dalam kitab sucimu itu,” pintanya manja.

“Argh!! Lagi-lagi kau meminta sesuatu yang sukar kubuat. Awas kau Ran!” balasku.
“Hm, maaf.. tapi sepertinya aku telah jatuh hati…” Tak kuduga Ran berani mengirim pesan sebegitu kepadaku.

Aku jadi serba salah dibuatnya. Ah gawat, bagaimana mungkin aku bisa terjebak dalm kondisi macam ini? Kacau! Kutunggu pesan seterusnya tapi tidak segera muncul.
Kuberanikan diri untuk bertanya, agak berat jemariku menekan-nekan papan kekunci laptop ini.
Aku paksa juga, “Jatuh hati kepadaku??”
Ah, malunya aku bertanya soalan bodoh seperti itu. Entah akan kusembunyikan di mana wajahku ini.

Bulb! Hijau ! Ran membalas.
“Jatuh hati kepada agamamu! J
Hah, lega!



Maktabah Darul Quran
Rabu, 19 September 2012
15.40

Monday, 16 July 2012

Abraham Lincoln vs John F. Kennedy


Fakta atau auta??


  • Lincoln dipilih menjadi ahli kongres pada tahun 1847, seabad kemudian John F. Kennedy pula dilantik pada tahun 1947.
  • Lincoln memiliki Setiausaha yang bernama Kennedy. Manakala Kennedy pula memiliki pembantu yang bernama Lincoln.
  • Ejaan nama Lincoln dan Kennedy masing-masing mengandungi tujuh huruf
  • Isteri kedua-dua bekas presiden Amerika Syarikat itu kehilangan anak lelaki mereka ketika bergelar first lady.
  • Lincoln dan Kennedy menerima tembakan dari belakang tepat di kepala mereka pada hari Jumaat di samping isteri masing-masing.
  • Kedua-dua pembunuh Lincoln dan Kennedy terbunuh sebelum sempat dibawa kemuka pengadilan.
  • Secara kebetula juga, jumlah aksara pada ejaan nama peragut nyawa mereka itu berjumlah 15 huruf. (John Wilkes Booth dan Lee Harvey Oswald)
  • Booth dilahirkan pada 1839, manakala Oswald dilahirkan pada 1939. Kebetulan juga?

Monday, 18 June 2012

Jerry D. Gray (Art of Deception)


Deretan toko buku di jalan Masjid India masih penuh sesak ketika itu. Bahang udara panas menyelubungi atmosfer Kuala Lumpur. Jam masih menunjukkan pukul 03.30 petang. Saya bersama sahabat-sahabat usrah ar Ruhul Jadeed masih sibuk mencari-cari buku ilmiah yang telah ditetapkan oleh naqib kami.

Tiba-tiba saja saya terpanah dengan suatu buku terbitan PTS. Jerry D. Gray, dialah penulis yang membuatku penasaran. Rasa ingin tahuku terus membuncah. Saya amat tertarik dengan buku tulisannya yang bertajuk “Art of Deception : Amerika, Freemason & Zionis Mereka Menipu Dunia”. Saya sempat membaca sekilas sebahagian intisari yang dikemukakan oleh Jerry. Tetapi sayangnya, saya belum bisa membeli buku tersebut (biasa, ekonomi merudum!).

Dalam buku tersebut Jerry membongkar beberapa peristiwa dunia yang selama ini diselewengkan oleh pihak-pihak tertentu. Antaranya ialah pendedahan rahsia penipuan peristiwa 9/11, misteri tentang al Qaedah, penipuan berita tentang kejadian Tsunami di Aceh pada tahun 2004 dan pendedahan tentang pemerintah bayangan Amerika Serikat. Jerry, yang dilahirkan pada 24 September 1960 di Wiesbaden, Jerman juga mengungkapkan beberapa perkara besar konspirasi dunia yang telah dirancang oleh AS, Freemason & Zionis. Antaranya, Jerry mengatakan bahwa Yahudi kini menguasai 96% media massa dunia. Ajaibnya, penguasaan itu dilakar oleh hanya 6 media saja (CNN, CBS, ABC, NBC, Fox News dan Washington Pos). Dengan menguasai platform yang menjadi nadi utama penggerak dunia ini tidak mustahil mereka dapat menguasai pola pemikiran, opini serta mempengaruhi corak budaya-budaya lain.

Jerry Duane Gray pernah bekhidmat di United States Air Force (USAF)pada tahun 1978-1982. Kemudian Jerry berkerja di Arab Saudi sebagai seorang mekanik pesawat dan tenaga pengajar untuk New Saudi Mechanics. Dia juga diberi tanggungjawab untuk menangani pesawat pribadi Raja Fahd. Secara ringkasnya, Jerry kemudian menetap di Jakarta pada tahun 1984 sebagai seorang master dalam instruktur selam (dia pernah mendapat sertifikat sebagai PAD, Instruktur Selam Internasional). Jerry juga aktif dalam kegiatan jurnalistik. Sehingga CNBC Asia menghubungi Jerry pada 1998 untuk dilantik sebagai wartawan yang bertugas meliput kejadian-kejadian penting di Indonesia.


Jerry memeluk Islam setelah Allah SWT mencampakkan hidayah ke dalam hatinya. Dia merasa takjub ketika melihat umat Islam di Arab Saudi yang melaksanakan solat di mana saja sebaik saja azan dilaungkan. Mereka meninggalkan keda-kedai, toko-toko dan barang-barang dagangan mereka tanpa ada yang merasa takut dicuri. Setelah itu, Jerry membaca al Quran dan kitab hadith Bukhari. Ia berpendapat bahwa Islam adalah agama yang logic dan agama yang benar. Jerry juga membeli lebih 350 judul buku berbahasa Inggris tentang Islam saat bekunjung ke Arab Saudi. Semoga saja Islamnya adalah murni dan bukan sebagai pembawa bibit-bibit kehancuran kepada kita. Allahu a’lam.

Kini Jerry menetap di Jakarta Indonesia. Dan menurut perkembangan terkini, dia sedang mengurus proses naturalisasi status kewarganegaraannya dari AS menjadi warganegara Indonesia.  Jerry aktif dalam melakukan penelitian, kajian dan pengeksposan fakta-fakta serta misteri tersembunyi di balik tangan-tangan kuasa besar dunia. Antara karya-karya beliau ialah : Demokrasi Barbar Ala Amerika, Deadly Mist 1 & 2, Dosa-dosa Media Amerika, American Shadow Government dan Rasulullah is My Doctor.
Antara pembongkaran dan pendedahan Jerry berkaitan AS, Freemason dan Zionis ialah :

> Jerry mengupas tentang sejumlah penipuan pemerintah AS berkenaan peristiwa 9/11 yang berlaku di World Trade Center (WTC) New York dan di Pentagon. Hal ini dijelaskan sendiri olehnya dalam buku Art of Deception melalui analisa gambar dan data-data lain.

> Virus H1N1 dan H1N5 yang berkembang diseluruh dunia merupakan permainan buatan AS untuk membuat bangsa-bangsa lain tidak sehat sehingga bias mereka kuasai. Akhirnya, AS juga yang melabel dirinya berhasil menghasilkan vaksin serta obatnya.

> Sebanyak 30% dokter di AS tidak mau anaknya diimunisasi. Tetapi mengapa mereka (khususnya WHO) memaksa anak kita diimunisasi?

> Jerry berpendapat bahwa saat ini dunia dikuasai oleh sekumpulan manusia yang menggelar diri mereka sebagai “The New World Order”. Mereka menguasai 96% media massa sehingga dapat mengatur segala pemberitaan dan informasi. Mereka berusaha menghilangkan semua agama di dunia ini dan menggantikannya dengan agama rekaan mereka sendiri. Mereka berusaha menjadikan semua bangsa tunduk di bawah kekuasaannya. Mereka melakukan segala upaya untuk menyambut kedatangan Dajjal.

Sungguh besar ancaman yang kita hadapi pada mutakhir kini. Tragedi yang terkini, umat Islam Rohingya terpaksa bertempur dengan kaum Buddha di Myanmar. Manakala di belahan lain, terdapat desas-desus yang mengatakan bahwa keseluruhan Parlimen Mesir tiba-tiba saja dibubarkan oleh Mahkamah Mesir atas alasan ‘Pencabulan Perlembagaan’. Sehingga pencalonan Dr. Mursi sebagai calon presiden Mesir mewakili umat Islam di sana berada di ujung tanduk*. Selain itu, hubungan diplomasi antara sebagian kecil rakyat Indonesia-Malaysia juga amat merunsingkan kita. Ia bisa tercetus kapan saja akibat propaganda pihak-pihak tertentu yang mempermainkan masyarakat melalui isu-isu kebudayaan dan batas territorial kedua-dua negara berjiran ini. Akibatnya, mereka yang kurang memiliki kefahaman Ukhuwah Islamiyah terjebak dalam lembah amarah dan emosi. Dan banyak lagi konflik-konflik dunia yang berkemungkinan besar untuk diselewengkan oleh AS dan sekutu-sekutunya.

”Wahai kaum mukmin, bersiap dirilah kalian untuk menghadapi kaum kafir dengan segenap kemampuan kalian dan dengan pasukan berkuda, untuk menimbulkan ketakutan pada musuh-musuh Allah, musuh-musuh kalian dan orang lain di luar mereka. Kalian tidak tahu kekuatan mereka, tetapi Allah mengetahui kekuatan mereka. Harta apa saja yang kalian telah dermakan untuk mendanai jihad untuk membela Islam, niscaya Allah akan memberikan pahala kepada kalian dan kalian tidak akan diperlakukan zalim.” (Qs Al-Anfal 60).

*Terkini :Dr. Muhammad Mursi telah memenangi ‘election’ di Mesir. Alhamdulillah J

Saturday, 4 February 2012

Apa yang Aku Dapat?

Sudah tiga tahun aku menelusuri bait-bait kalam musafir ini. Berada di perantauan fanaa yang sementara, ibarat kehidupan dunia. Setelah kumeninggalkan memori-memori silam di pondok pesantren (ponpes) Al Anwar Pacul Gowang pada awal tahun 2009, kutempuhi perjalanan perantauan ini dengan warna-warni dan haru-biru realitas duniawi. Tanpa terasa mungkin 2012 ini tahun terakhirku di Kelantan Darul Naim, Malaysia.

Baru-baru ini, aku sempat mengobrol dengan seorang sahabat seniorku dari Al Anwar. Dia bertanya tentang keadaanku di sini, bagaimana dengan pengajianku di sini. Aku jawab terus terang, lancar-lancar saja. Insyaallah tahun depan aku akan memasuki tahun pertama untuk sarjanaku (S1 / Degree). Aku jawab begitu sebab sekarang aku sedang berada di dalam ‘lingkaran masa’ STAM / Pra-university, dan akhir tahun ini akan mengambil peperiksaan STAM. Kan STAM setaraf dengan diploma?

Kemudian dia bertanya pula, “Sudah bisa buat apa?” Pertanyaan yang benar-benar menusuk relung hatiku. Yang selama ini jarang dan bahkan belum aku temui sahabat yang bertanya perkara seperti ini kepadaku. Spontan aku tidak langsung menjawabnya. Maaf, bukannya aku tersinggung atau marah, malah aku sangat berterima kasih. Melalui satu persoalan itu aku tersadar dari igauan, bahwa kalam musafirku ini mempunyai misi yang besar. Terlalu berat untuk kuhadapi sendirian. Dan masih terlalu jauh dari kata sukses atau berjaya.

Seandainya aku jawab aku sudah bisa jadi Imam, baca khutbah, pimpin tahlil, solat gerhana, solat jenazah dan lain-lain pastinya semua sahabatku di Al Anwar juga bisa melakukannya. Tak perlu merantau jauh-jauh ke luar negara! Aku sangat bersyukur pernah menjadi bagian dalam deru nafas perjuangan Al Anwar. Al Anwar, berkat didikannya-lah aku berhasil sampai pergi sejauh ini. Berkat ilmunya-lah aku mengenal Islam lebih mendalam. Al Anwar dan juga ponpes-ponpes lain di Indonesia, di Jawa khususnya, mereka adalah gudang-gudang mutiara ilmu yang takkan pernah habis untuk diambil.

Aku bangga, orang di sini sangat arif dan mengakui kehebatan ponpes-ponpes kita! Kalau boleh aku katakan, ponpes-ponpes di Indonesia sama hebatnya dengan institusi-institusi masyhur di Timur Tengah. Ini semua bukannya tanpa asas. Coba lihat kitab-kitab yang diajar dan ditelaah di ponpes-ponpes tersebut, ia 100% tulisan dalam bahasa Arab dan setaraf dengan kitab-kitab yang dikaji di Timur Tengah. Sebut saja Bulughul Marom, Tafsir Ibnu Katsir, Alfiyah Ibnu Malik, Fathul Mu’in, Al Hikam, Al Iqna’ dan lain-lain, pasti semua kenal! Ia juga berhasil melahirkan beribu-ribu ulama yang masyhur di Nusantara. Inilah hebatnya ponpes kita!

Namun kawan, sadarkah kalian? Ada satu virus berbahaya yang mungkin tak pernah kita sadari kehadirannya. Percaya atau tidak, ia telah bercengkeram di tanah air kita sejak bemulanya zaman penjajah dahulu kala. Ya, ketika itulah Islam dan negara kita diporak-porandakan oleh penjajah. Mereka berhasil menyihir dan ‘memodifikasi’ Islam yang sekian lama bertapak di Indonesia sejak zaman Wali Songo itu.

Inilah yang aku dapat dari setiap langkah kalam musafirku ini. Ku sangat berharap agar kalian dapat menerima pendapatku ini. Setidaknya, selama tiga tahun kumenelusuri setiap jejak tapak bumi Serambi Mekah ini aku dapat mengenal apakah itu perjuangan menegakkan Khilafah Islamiyah. Aku tahu seperti apakah aurat muslimat yang benar-benar dikehendaki oleh Allah swt. Aku dapat mempelajari hukum-hukum ikhtilat (pergaulan antara lelaki dan perempuan) dan batas-batasnya berdasarkan syariat Islam. Dan yang paling penting, kini diri ini tahu bahwa agama Islam benar-benar agama yang syumul. Ia melingkupi sekecil-kecil perkara (seperti adab istinjak) sehinggalah sebesar-besar perkara (seperti urusan pemerintahan), semuanya telah diatur di dalam Islam! Politik, ekonomi, sosial, sejarah dan lain-lain semuanya tidak dapat dipisahkan dari ruh-ruh Islamiyah. Bukan seperti kata Liberalis, yang menyatakan agama Islam tidak berhak ikut campur urusan politik dan pemerintahan!!!

Namun sejak dulu kita selalu disuapi oleh doktrin-doktrin Islam yang telah ‘dimodifikasi’ oleh penjajah itu. Meski bukan melalui jalan pendidikan namun pengaruh doktrin itu cukup besar dalam kehidupan bermasyarakat. Lihatlah sekarang, berapa banyak muslimat yang sentiasa memakai jilbab ketika mereka keluar di khalayak umum? Berapa banyak yang menjaga auratnya? Padahal menutup aurat itu hukumnya wajib! Berapa banyak pemuda-pemudi kita yang faham arti ikhtilat dan adab-adabnya? Padahal pergaulan lelaki dan perempuan yang terlalu bebas itu dibenci agama! Berapa banyakkah pemuda kita yang benar-benar menghayati perjuangan Islam yang sebenarnya? Maksiat dan kedzaliman setiap waktu mengharu-birukan kedamaian di tanah air kita! Pemerintah pun bodoh, tak tahu dan tak mengerti agama! Maaf kawan, aku sendiri malu mengungkapkan ini semua. Tetapi inilah faktanya, aku cuma ingin kita sama-sama bangkit! Satukan fikrah, iringkan langkah! Sedarlah kawan! Ini adalah tanggung jawab kita semua, selaku generasi penerus perjuangan dakwah Islam di dunia akhir zaman ini!

Mungkin di mata orang lain semua itu hanyalah perkara kecil. Biarlah, tetapi aku tetap bersyukur karena bisa tahu ‘perkara kecil’ itu. Aku belum bisa berbuat apa-apa, hanya melalui tulisan inilah aku berbagi cerita denganmu. Ilmu di dada masih terlalu sedikit. Meskipun begitu, ayo bersama kita meneruskan perjuangan ini. Kita tegapkan langkah, kuatkan keazaman dan ikhlaskan niat!

Tidak kulupa kuucapkan terima kasih kepada sahabatku atas pertanyaannya itu. Aku sadar betapa lemahnya diri ini. Walau begitu, ingatlah, ilmu tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Meski ku berada jauh di sini bukan berarti aku lebih hebat. Karena aku yakin engkau yang berada di tanah air tercinta pasti lebih hebat dan alim. Tanah air yang telah melahirkan ribuan pejuang serta para alim ulama yang telah mengukir sejarahnya yang tersendiri dalam menyebarkan dan menegakkan Kalimatullah di Nusantara ini.

“Ayyuhal Ikhwah, kalian adalah ruh baru yang mengalir di hati ummat, maka kamu yakin menghidupkannya dengan Al Quran! Kalian adalah cahaya baru yang tengah merkah, cahaya itulah yang menyingkap tabir kegelapan dan menggantikannya dengan makrifatullah! Kalian adalah suara yang melengking tinggi dan senantiasa menyenandungkan dakwah Rasulullah! Wahai anak-anak Timur dan Barat! Kaulah tunas harapan, engkaulah generasi yang akan menghancurkan belenggu tirani! Ayyuhal ikhwah, antum arruhul jadeed fii jasadil ummah…”

Tuesday, 24 January 2012

Program Jalinan Ukhuwah, Satu Anjakan Paradigma


Tarikh 28 – 29 Safar 1433 H bersamaan 22 – 23 Januari 2012 merupakan hari yang penuh bersejarah bagi para warga SMU(A) Al Ulum Padang Embun dan para bekas pelajar  (alumni) khususnya. Apa tidaknya, bekas kepimpinan pelajar Al Ulum berjaya mencatat sejarah yang tersendiri. Mereka telah sukses mengadakan program reunion yang julung-julung kalinya dianjurkan di sekolah ini secara rasmi.

Program Jalinan Ukhuwah (PJU) ini menghimpunkan bekas pelajar lelaki lepasan PMR tahun 2007 – 2011. Manakala untuk bekas pelajar perempuan insyaallah ia akan dilaksanakan pada tarikh 3 Februari nanti jika tidak ada aral melintang, sesuai dengan perancangan yang telah dibincangkan.

Program Jalinan Ukhuwah ini merupakan program perintis bagi mengadakan program-program seumpamanya yang lebih besar lagi. Ini semua berkat inisiatif Ustazah Nortamziah Pauzi juga selaku guru penasihat Badan Dakwah dan Kepimpinan Islam (BALKAN) Al Ulum bagi menyambung kembali tali ukhuwah agar tidak semakin terlerai. Oleh itu, perwakilan bekas kepimpinan pelajar telah mengadakan perbincangan ringan untuk menjayakan matlamat ini.

Salah satu matlamat mereka ialah untuk menubuhkan persatuan alumni Al Ulum. Organisasi tersebut akan bergerak dalam menjaga kesinambungan proses pentarbiyahan dan kepemimpinan pelajar Al Ulum. Sama ada melalui aktiviti formal mahupun non-formal. Atas dasar itulah program reunion dalam skala sederhana perlu dilaksanakan. Matlamatnya jelas, ia berfungsi sebagai batu loncatan untuk meraih matlamat utama, penubuhan persatuan alumni Al Ulum.

PJU ini boleh dikatakan 80% berjaya dilaksanakan dengan lancar dan mencapai sebahagian matlamatnya. Tentunya, penilaian ini turut melihat pelbagai aspek utama. Antaranya ialah dari segi kos perbelanjaan. 85% dari keseluruhan wang masuk (RM430.35) ialah dikutip daripada yuran peserta seramai 37 orang. Manakala bakinya ialah daripada sponsor guru dan Pengetua. Seterusnya pada akhir program didapati bahawa setelah wang masuk ditolak dengan perbelanjaan ternyata masih berbaki RM19.51 (5.3%).

Manakala dari segi antusiasme peserta, ternyata amat membanggakan. Jangkaan awal kehadiran maksimum peserta ialah seramai 40 orang dan nyatanya yang hadir menyertai PJU ini ialah seramai 37 orang (92.5%). Majoritinya merupakan alumni lepasan PMR tahun 2009, 2010 dan 2011. Alumni 2008 seramai 5 orang sahaja sedangkan alumni dari tahun 2007 tiada kehadiran yang dicatat. Hal ini disebabkan oleh pelbagai halangan. Antaranya ialah kesukaran untuk menghubungi mereka dan mereka berada jauh di luar negeri serta sibuk dengan tugasan masing-masing.

Dari segi pencapaian objektif, PJU kali ini dilihat hanya berhasil mencapai dua daripada tiga objektif yang telah ditetapkan. Iaitu ‘menghubungkan kembali silaturahim yang terpisah’ dan ‘menjalin keakraban dan kepercayaan terhadap sesama sahabat’. Manakala bagi point ‘mengeratkan hubungan antara sesama pelajar dan juga guru-guru’ gagal dicapai kerana masing-masing guru ada urusan lain yang lebih penting sehingga tidak dapat menghadirkan diri dalam PJU.

Salah satu perkara yang amat menarik ialah apabila Mudir / Pengetua, Yang Berbahagia Ustaz Kamaruddin Ibrahim, berucap untuk merasmikan PJU pada pukul 8 malam. Beliau ternyata sangat bersyukur dan menyokong sepenuhnya program reunion seperti ini. Beliau bangga kerana berkat sokongan dari semua pihak program yang pertama kali ini berjaya dilaksanakan.

Beliau memberi laluan yang seluas-luasnya agar program serupa dapat diadakan secara lebih besar-besaran lagi. Demi menghimpunkan semula semua bekas pelajar Al Ulum, tidak mengira tahun, sama ada muslimin ataupun muslimat, biar semua bisa berkumpul dan bersilaturrahim. Ya, ini merupakan satu anjakan paradigma dalam meniti arus globalisasi persaudaraan dan kerjasama antara pihak sekolah dengan para alumni di Al Ulum.
Walaupun begitu, PJU juga masih menyimpan banyak kelemahan dan kekurangan. Pengisian program ada yang ‘terhapus’ dan batal dilaksanakan. Slot Bicara Rindu, gagal dilaksanakan kerana tiada seorang pun guru yang hadir. Sedangkan Slot Qiamullail secara berjamaah juga terpaksa dibatalkan kerana hampir keseluruhan peserta tidur lewat malam. Selain itu, ketiadaan ‘orang senior’ ternyata amat dirasai apabila peserta bersikap kurang disiplin dan tidak menghiraukan arahan dari urusetia yang rata-rata berumur sebaya. Semoga kelemahan ini dapat diambil perhatian agar ia tidak terulang untuk kedua kalinya.

Sebagai penutup kalam akhir, kami mengucapkan jutaan terima kasih kepada semua warga Al Ulum atas sokongan dan bantuan yang telah disumbangkan. Khususnya kepada Ustaz Kamaruddin Ibrahim yang sanggup meluangkan masa bersama para alumni walaupun hanya dalam hitungan minit. Juga kepada semua sahabat-sahabat alumni Al Ulum sekalian. Tahniah! Ini program pertama kalian, yang diadakan dan diurus secara berdikari tanpa kelibat guru pembimbing secara langsung dan dapat dilaksanakan dengan lancar. Serta jutaan terima kasih kepada semua pihak yang bergerak di sebalik tabir. Tanpa kalian pastinya PJU kali ini tidak akan berjalan dengan lancar.

Harapan kami, semoga program untuk alumni dapat dipertingkatkan lagi demi mencapai matlamatnya yang mulia. Seterusnya kelangsungan proses pentarbiyahan dan kepemimpinan pelajar di sini serta silaturrahim yang dibina tidak pernah terputus dan hilang ditelan arus zaman. Wallahu a’lam bissowab.

Friday, 20 January 2012

Opini Pemuda

Akhirnya saya bisa juga bertatap muka langsung dengan Adam Adli. Mahasiswa dari Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) yang tiba-tiba sahaja naik daun, menjadi terkenal di persada Malaysia dalam sekelip mata. gara-gara dia menurunkan bendera Perdana Menteri Malaysia, Najib Tun Razak selama lima minit, kemudian menaikkannya semula. Peristiwa ini terjadi ketika sekumpulan mahasiswa berdemonstrasi di kandang UMNO, Putra World Trade Centre (PWTC).

 Implikasi dari perbuatannya tersebut, Adam Adli sekarang digantung pengajiannya selama 3 semester. Namun begitu, beliau ada berkata bahawa mencari ilmu itu ada di mana-mana. Tidak hanya di bilik kuliah sahaja. Beliau boleh mendapatkan ilmu di atas pentas, di lingkungan sekelilingnya dan bahkan di jalan-jalan raya. Itulah realiti kehidupan kita sekarang ini. Begitulah katanya dalam Pidato Mahasiswa ketika beliau menyampaikan ucapannya di Kelantan Trade Centre (KTC). Acara yang dihadiri ribuan mahasiswa dan sebahagian pelajar sekolah menengah. Pidato Mahasiswa itu kali ini bertema "Suara Mahasiswa, Suara Keramat."

Seperti halnya dalam setiap peristiwa bersejarah, pasti ada sahaja pihak yang melemparkan pandangan positif dan ada pula pihak yang memberi pandangan negatif. Tidak jauh berbeza dengan apa yang telah terjadi kepada Adam Adli ketika itu. Banyak orang yang memberi pandangan positif namun tidak kurang juga golongan masyarakat yang membencinya,. Walau bagaimanapun, saya pulangkan kepada sahabat-sahabat pembaca sekalian tentang pandangan peristiwa penurunan bendera PM Malaysia tersebut. Pastinya dengan menilai pelbagai aspek dan melihatnya dari sudut dimensi yang luas. Bukan dari kacamata kekanak-kanakan.

Di sini saya hanya mahu berkongsi sedikit cerita berkaitan dengan kebebasan bersuara bagi para pemuda. Ketika itu saya masih berusia 16 tahun, saat saya masih belajar di Pondok Pesantren Al Anwar, di Kota Jombang (80km ke arah barat Surabaya) JawaTimur Indonesia. Yang merupakan salah sebuah pondok pesantren atau institusi agama daripada beratus-ratus pondok pesantren lain di kota kelahiran saya. Dalam usia semuda itu, kami (saya dan seluruh pelajar agama/santri) telah menyertai dua kali demonstrasi yang diadakan secara besar-besaran.

Beribu-ribu santri dari pelagai pondok pesantren berhimpun dan turun ke jalanan di gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) kota Jombang. Kami bebas membawa sepanduk, melaungkan slogan dan kata-kata penyemangat. Pihak polis bekerjasama dengan baik ketika itu, semuanya berjalan lancar. Meski kadang-kadang polis Indonesia bersikap tegas dan kejam.

Bukan hanya di Jombang sahaja, bahkan demonstrasi ketika itu turut diadakan secara serentak di seluruh kota-kota besar di Indonesia. Saat itu, kami berdemonstrasi untuk menentang kehadiran presiden Amerika Syarikat, George W. Bush yang ingin berkunjung ke Indonesia.

Apa yang ingin saya tekankan di sini, di Indonesia pemuda bebas bersuara. Mengkritik kerajaan atau apa-apa dasar negara yang merugikan rakyat. Ya, meski kadang-kadang harus berdepan dengan gas pemedih mata dan kekejaman polis. Pemerintah tetap memberi kebebasan bersuara. Dan, dalam usia 17 tahun pemuda Indonesia sudah layak untuk mengundi.

Saya amat tertarik dengan kalam akhir yang diucapkan oleh Adam Adli di KTC semalam. Beliau memetik kata-kata mahasiswa dari tanah air saya, Indonesia. Dialah Soe Hok Gie. Pemuda yang lantang mengkritik Soekarno, presiden yang digelar sebagai Bapak Revolusi Indonesia. Dia menentang Soekarno kerana Soekarno berani mengistiharkan dirinya sebagai presiden seumur hidup. Adam Adli memetik kata-kata Soe Hok Gie, "Lebih baik hidup terpencil daripada menyerah pada kemunafikan."

Ya, benar! Apa yang benar mesti disampaikan walaupun itu pahit. Inilah suara pemuda, suara generasi yang akan mengetuai kemudi negara, bangsa dan agama. Walaupun Indonesia tetap di takuk rimba korupsi dan jerat kemiskinan, namun apa salahnya negara ini mencontohi sikap demokrasi dan kebebasan bersuara Indonesia yang tak pernah padam?

Saturday, 14 January 2012

MANUSKRIP


Dingin. Angkasa malam diselimuti kegelapan. Rembulan terlelap dibuai lena. Tidak menampakkan cantik wajahnya. Malam ini. Begitupun bintang-bintang. Tersipu malu di sebalik awan.

Retinaku masih tertumpu pada coretan-coretan kusam itu. Fail-fail rahsia sejarah dunia. Sementara gerimis masih setia membasahi padang yang berembun. Riuh dalam sepi. Dan kesejukan terus menyerang benteng-benteng epidermisku.

Kuyakin sejarah memang amat bererti. Ia juga penuh misteri dan tanda tanya dalam setiap helai lembarannya. Majoriti manusia yang jahil seperti diriku ini hanya menelan bulat-bulat apa yang diungkapkan oleh pena sejarah. Salah atau benar, asli atau palsu. Kuhiraukan semua itu. Tanpa perlu kutelusuri riwayat penyampaiannya.

Namun tiba-tiba sahaja manuskrip kusam ini menyentak fikiranku. Menyelongkar setiap leliang kebodohan dalam sistem saraf pusat. Mencabar setiap kepercayaan yang selama ini bertahta di relung hati. Mengubah persepsi yang sekian lama mengepung atmosfer kotak pemikiran.

Ia seakan lembaran sejarah yang tersembunyi! Yang selama ini tak pernah diungkapkan kepada khalayak umum. Entah demi kepentingan politik pada zaman itu. Atau kerana kecacatan dalam pengumpulan bukti-bukti sejarah silam. Aku berhasil mendapatkannya beberapa hari lepas dari sahabat dunia mayaku dari Australia.

Otto Hahn, seorang Jerman yang membuat ledakan bom atom pertama pada tahun 1938!

Antonio Meucci, (1808 – 1889) dari Itali merupakan penemu telefon pada tahun 1849. Dan Alexander Graham Bell, yang sebenarnya bekerja pada Meucci, mengiktiraf salinannya pada tahun 1876 dan kemudian mengakui sebagai penemunya!

Orang Eropah Selatan pertama yang menemukan Amerika Utara pada tahun 1472 adalah seorang berbangsa Portugis yang bernama Joao Vas De Corte Real pada suatu misi penemuan rahsia. Ada juga yang meriwayatkan, bangsa Phoenicians telah mengunjungi Amerika Utara jauh sebelum itu. Dan Columbus datang pertama kali dua puluh tahun kemudian, tahun 1492!

*****

Sepi! Deru nafasku lirih. Tapi keheningan situasi ini membuatnya seakan bergemuruh di gegendang cochlea ini. Bebola mataku kembali melirik tajam. Menelusuri fakta-fakta yang berselerak itu. mencari-cari seberkas sinar harapan. Bagi merungkai sesuatu yang membuatku kebingungan.

Ah! Sia-sia. Perempuan itu sungguh membuatku mati kutu! Entah, teka-teki remeh yang sukar dipecahkan.
“Siapakah yang pernah menjadi pembunuh 1/6 penduduk dunia?” gumamku. Mengimbas kembali teka-teki yang pernah diajukan olehnya kepadaku. Jiwaku terpuruk kaku dalam kondisi sebegini.

Nazi Otto Adolf Eichman, dianggarkan hanya membunuh sedikitnya 12 – 18 juta orang sahaja. Tetapi aku yakin dia tak sampai membunuh sampai 1/6 penduduk dunia! Gengis Khan juga tidak menepati kriteria persoalan tadi. Pembunuhan massal oleh pemerintah Cina sejak tahun 1949 – 1971 adalah seramai 323 – 617 juta! Seperti yang termaktub dalam “Laporan Walter” yang dibuat pada tahun 1971. Nihil! Masih tiada jawaban yang sesuai. Pelbagai spekulasi yang kubuat belum membuahkan hasil. Manuskrip usang sejarah dunia itu juga tidak bisa memberiku jawaban walau sepatah ayat.

Diam. Kutermenung sejenak. Soalan-soalan dari perempuan itu kembali menghujani kanvas pemikiranku. Bertubi-tubi! Belumpun selesai kurungkai masalah yang pertama.

“Di dalam al Quran terdapat 144 surah. Setiap surah pasti diawali dengan Basmalah. Tetapi surah at Taubah tak mempunyai Basmalah.” Jelasnya panjang lebar. Aku hanya angguk. Pasrah.

 “Jadi untuk 144 surah tersebut hanya ada 143 Basmalah. Padahal apabila ia dikira semula, semuanya cukup! Terdapat 144 surah dan 144 Basmalah. Di manakah letaknya Basmalah yang satu lagi?” Tanyanya kepadaku.

Kuhirup nafas panjang. Cuba mengambil inspirasi dari tempias air hujan malam ini yang masih perawan. Menyegarkan kembali liang-liang fikiran yang semakin kusut masai. Pena dihujung jari kuputar-putar lesu. Sesekali mengikut arah jam, sesekali melawan arus putarannya. Ternyata masih banyak perkara lagi yang belum kuketahui. Meski umur semakin mendekati dekad kedua. “MasyaAllah…” hembusku lemah.

Aku masih belum berganjak dari tempat dudukku. Mendepani susunan rapi buku-buku kuno dan kitab-kitab salafy yang berjajar di rak buku. Mengamatinya satu per satu. Entah entah ada buku atau dokumen yang dapat kujadikan rujukan yang sesuai.

Senaskhah kitab kuning tua menarik perhatianku. Hampir hancur diserang arus masa. “Kitab Qisasul Anbiyaa”, gumamku dalam hati. Ini kitab yang pernah aku telaah dulu ketika bulan Ramadhan di pondok pesantren al Anwar. Sudah banyak bahagian-bahagiannya yang rosak. Sukar untuk dibaca kerana tulisannya pun nampak kabur.

Kubuka lembaran pertama, senarai kandungan. “Pembunuhan pertama di dunia.” Aku terkejut sejenak. Tajuk kecil yang membuatku penasaran. Segera jemariku menelusuri lembaran –lembaran kitab itu. Halaman 12! Sial. Sudah tiada, halaman 12 dan 13 sudah tercabut. Entah tercicir di mana. “Sstt…! Tetapi cuba lihat halaman 14! Ada sesuatu petunjuk di situ. Surah al Maaidah ayat 27 – 32.” Bisikku meyakinkan diri.

Dengan sigap telapak tanganku kini meraih sebuah kitab kitab suci al Quran. Yang tak pernah berbohong terhadap sejarah masa lalu dan ramalan masa depan! Dzaalika al kitaabu laa raiba fiih…

Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia (Qabil) berkata ”Sungguh, aku pasti membunuhmu!” Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.” (Al Maaidah : 27)

Mungkinkah dia seseorang yang aku cari? Si pembunuh 1/6 penduduk dunia? Sebentar, bukankah pada zaman itu yang menghuni dunia ini hanyalah 6 orang, Nabi Adam, Siti Hawa, Qabil, Habil, Iqlima dan Lubuda?

Ya, tepat sekali! Itulah jawabannya. Qabil membunuh Habil kerana dia enggan dinikahkan dengan Lubuda, adik Habil. Qabil ingin menikah dengan adiknya sendiri, Iqlima yang mempunyai paras lebih cantik dan ayu. Qabil juga tidak rela menyerahkan Iqlima kepada Habil!

“Hm… begitulah kecantikan dan keelokan paras wanita. Selalu menjadi fitnah dan rebutan lelaki yang kadang-kadang menjurus kepada permusuhan yang sampai bisa mengakibatkan nyawa melayang,” hatiku bermonolog dalam sunyi.

*****

Hujan di luar sana semakin lebat sahaja. Angin Monsun semakin bergelora menyapu Pantai Timur. Menerpa dedaunan hijau dan rerumputan ilalang. Dingin. Ya, masih tetap dingin. Hampir sepanjang hari hujan mengguyur tanah Serambi Mekah ini.

Pernah ketika dulu ragaku terpenjara di dalam asrama ini selama satu minggu lebih. Kerana hujan yang turun tanpa kompromi, tiada henti. Biasalah, bulan Disember. Masih dalam lingkungan masa musim tengkujuh. Tetapi aku tetap bersyukur bisa merasakan pengalaman ini. Ia seakan-akan membawaku menikmati musim dingin di Eropah. Sayangnya di sini yang turun bukan hujan salji!!!

Otakku masih buntu! Teka-teki pertama telah terpecahkan. Soalan kedua? Aku masih berfikir untuk menghubungkaitkan semua kata kunci yang telah ada. Aku peras otak ini untuk memanggil kembali memori – memori lalu. Memanggil sejarah-sejarah silam. Mungkin juga ada kaitannya dengan persoalan pertama tadi.

Cepat-cepat kuraih semula naskhah kitab suci al Quran, manuskrip teragung sepanjang zaman! Kubuka helaian demi helaian menelusuri fakta yang tersembunyi. Kucari surah-surah yang berkaitan dengan kisah Nabi Sulaiman a.s dan burung Hudhud. Feeling-ku merasakan ada sesuatu yang menarik dalam kisah cinta raja Sulaiman dan ratu Balqis. Ia bukan sekedar kisah cinta biasa. Cinta yang berputik kerana Allah swt, kerana agama-Nya. Mungkin aku bisa mendapat sedikit petunjuk di situ.
Kujejaki setiap ayat-ayat suci yang tertera di situ. Tiba-tiba pandanganku terhenti. Jejariku tegas menuding setiap baris ayat-ayat suci ini. Nafasku terus bergejolak memainkan emosi sekujur jiwa raga. Kubaca dengan teliti dan penuh konsentrasi.

“Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isinya, “Dengan nama Allah swt Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Janganlah engkau berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang –orang yang berserah diri.”

Ya, tepat sekali! Inilah jawabannya. Sungguh benar. Terdapat 144 surah dan 144 Basmalah di dalam al Quran. Subhanallah!!! Ia terletak pada ayat ke 30 surah an Naml. Yang menceritakan perihal surat Nabi Sulaiman kepada Ratu Balqis di negeri Saba’. Tidak dapat disangkal lagi.

Secepat mungkin kuraih Sony Ericsson Cedarku yang tersadai di atas meja kayu itu. Segera kudail nombor perempuan itu.
“Assalamualaikum Anis, aku berhasil memecahkan kedua teka-tekimu itu!” ucapku dengan senyum lebar mekar di bibir. Lega!

“Waalaikumsalam, okay… Congrats!” kata adik perempuanku itu, ringkas. Belum sempat aku melafazkan kalam, dia lagi-lagi mengangkat bicara memecah atmaku.

“Apa yang diciptakan terlebih dahulu, bumi ataupun langit?” tanyanya. “Aduh, nampaknya aku perlu mengkaji dan meneliti lagi manuskrip teragung mukjizat Rasulullah saw itu,” gumamku lirih.

“Itu bukan manuskrip,” sergahnya.
“Maksudmu?” Aku tertegun dalam kehairanan.
“Manuscript is a very old book or document that was written by hand. Do you understand?” dia mengepungku dengan kalam yang benar-benar membuatku tergagap.
“Ia adalah Kalamullah,” secara kebetulan kami berdua melafazkannya bersama-sama.





Padang Embun,
15.58
20 Safar 1433 H / 14 Januari 2012