Monday, 28 November 2011

Debur Ombak Suramadu



Andai kutahu, kapan tiba ajalku…
Kuakan memohon Tuhan tolong panjangkan umurku…
Andai kutahu, kapan tiba masaku…
Kuakan memohon Tuhan jangan Kau-ambil nyawaku…
Aku takut akan semua dosa-dosaku…
Aku takut dosa yang terus membayangiku…

Suara sumbangnya bergema di dekapan langit Surabaya. Bersama panasnya bahang kehidupan. Setiap hari dia hanya menyanyikan lagu yang sama. Lagu yang dilantunkan oleh penyanyi favoritnya, Pasha UNGU. Entah mengapa. Mungkin dia terlalu menghayati makna yang tersirat dalam bait-bait indah yang terkeluar dari mulut mungilnya. Ataupun, dia tak punya kesempatan untuk mendengar lagu-lagu yang lain. Yang difikirkannya sekarang hanyalah dia bisa mendapatkan duit untuk membeli sesuap makanan hari ini.

Dia sadar, dia bukan penyanyi yang terkenal lagi masyhur di kota ini, apalagi di Nusantara. Yang bisa mengaut duit berjuta-juta hanya dalam sekelip mata. Dia cuma penyanyi jalanan. Yang biasa dikenal dengan ‘pengamen jalanan’. Anak kecil yang sering dilabel sampah masyarakat oleh orang-orang berduit dan sombong itu.

Hanya berbekalkan gitar kecil dan alat musik buatan tangannya sendiri. Yang dibuat dari tutup-tutup botol. Yang dia pungut sendiri dari sampah-sampah jalanan. Kemudian dipaku pada sebatang kayu berukuran 15cm. Menghasilkan bunyi gemerincing. Dia bernyanyi untuk ‘menghibur’ orang-orang yang ditemuinya. Lebih akuratnya, dia coba untuk menghibur diri sendiri.

Menghibur jiwa laranya agar dia tetap kuat. Tidak goyah dalam mengarungi arus kehidupan yang sukar di bumi kaya ini. Bumi yang kaya bagi mereka yang kaya, bumi yang miskin bagi golongan miskin sepertinya. Mungkin begitu agaknya. Dunia yang kontras!

“Matursuwun pak…” ucapnya berterima kasih dalam loghat Jawa yang sopan. Setiap sen baginya sangat bernilai. Dia tahu-walaupun sedikit-, syukur terhadap orang yang memberi merupakan syarat utama sebelum dia syukur kepada Tuhan Yang Maha Pemberi Rezeki. Dia tak pernah merungut dengan apa yang ada. Dia sangat qana’ah. Lebih qana’ah daripada mereka yang kaya dan rakus materi. Lebih qana’ah daripada mereka yang hidup dalam belenggu Hedonisme Barat. Mungkin juga, dia lebih qana’ah berbanding mereka yang telah belajar ilmu qana’ah. Walau jika ditanya, anak sekecil itu takkan tahu apa itu qana’ah. Tapi itulah hakikatnya, golongan seperti mereka lebih mudah berterima kasih dan bersyukur terhadap pemberian Allah swt berbanding kita!

Dia bergegas turun dari ‘Bus Harapan Jaya’ itu. Sambil mengusap renik-renik peluh yang membasahi dahinya, dia langkahkan kakinya menuju ke pinggir jembatan itu. Jembatan Suramadu, yang menghubungkan kota Surabaya dengan Pulau Madura. Jembatan terpanjang di Indonesia yang terbentang sejauh 5.438 meter.

Dilihatnya langit sore masih cerah. Belum terbungkus lagi oleh kegulitaan gelap malam. Dia beristirahat sejenak. Melepas segala bebanan hidupnya. Membuang jauh-jauh keletihannya bersama syahdunya alunan ombak kecil di pinggiran Selat Madura itu. Sambil matanya menerawang jauh ke ujung pandangan. Menatap selat yang seakan tak bertepi itu. Semilir!

Jauh dipelupuk matanya, dia menangkap bayangan dua orang anak kecil sepertinya yang berdiri di tepi jembatan itu. Mereka sedang memancing. Dia mengayunkan langkah kaki untuk mendekati mereka berdua. “Eh ternyata kalian, Samsul, Duha !” ucapnya agak kaget melihat sosok mereka berdua di tepi jembatan itu. Ucapannya tak dihiraukan oleh dua orang sahabatnya itu.

“Bagaimana rezeki hari ini?” seloroh Duha yang sejak tadi hanya termenung memerhati Samsul memancing.
“Ya lumayanlah. Bisa buat isi perutku yang udah keroncongan nih..” kata Bejo sambil tersenyum bangga. “Kalian nggak cari duit?”
“Aku bosan hari ni. Sesekali juga aku mau menikmati keindahan alam di sini,” jawab Samsul dengan muka acuh tak acuh.
“Hehe, ternyata kau ada style juga untuk jadi orang besar bro..!” ketawa mereka pecah berderai di tengah jantung selat yang membelah Surabaya-Madura ini.

“Kita juga manusia. Yang punya hati, punya perasaan…” Samsul mulai berlagak. “Nggak usah terlalu dipikirin masalah kehidupan ini.. kan semuanya udah diatur sama yang di atas!” katanya sambil menunjuk ke angkasa yang cerah kebiru-biruan. “Tuhan udah jamin semua rezeki makhluknya! Kan?” sambungnya.

“Iya, tapi kalau kita nggak ada usaha ya sama aja bro..! kosong-kosong!” Bejo membalas sinis.

“Benar juga kata kalian. Mas Fahmi kan pernah bilang, hidup perlu ada usaha, do’a dan tawakal.” Sampuk si Duha, yang nyata bersifat lebih dewasa di antara mereka bertiga.

Mereka termenung di situ. Angin yang menerpa lirih epidermis mereka menghanyutkan lamunan masing-masing. Mengenang masa-masa silam. Ketika mereka pertama kali mengenal kehidupan dan agama.

*****
Jalan raya Darmo masih sibuk dengan rutinannya. Meladeni setiap kenderaan yang merangkak di atas dadanya. Ramai. Riuh. Jalan yang membelah jantung hati kota Pahlawan ini. Kerlipan cahaya lampu membias di setiap pandangan. Ditemani dengan bisikan lirih angin malam. Yang datang melalui celah-celah dedaunan pohon-pohon kota.

Aku masih terdiam di kursi kayu itu. Di ‘beranda’ warung Sate Madura. Dihangatkan dengan secangkir kopi Kapal Api aroma khas Nusantara. Duduk bertopang dagu. Memproses dan mencerna setiap patah kalam dari lisannya. Kutemukan seberkas bayang hitam di sudut bicaranya.

“Orang-orang yang tak bertanggung jawab telah menghancurkan sisa-sisa hidup mereka,” Fahmi mulai angkat bicara. Coba merenovasi semula kepingan-kepingan kisah detik pertama kali dia terjun ke dunia anak jalanan.

“Rumah-rumah kayu di pinggiran sungai itu telah musnah, luluh lantak…” sambungnya. Aku turut hanyut dalam imajinasi buatannya. Secara visual, aku nampak mereka meronta-ronta. Berteriak. Belasan anak sekecil itu harus kehilangan satu-satunya harta mereka yang paling berharga.

Meski bangunan itu tak layak dihuni. Meski rumah buruk itu tiada bernilai. Meski ia hanya tampak seperti sampah. Namun, apalah artinya itu semua bagi mereka? Satu-satunya tempat mereka berlindung dari bahang panas dunia. Panas kehidupan yang semakin merajalela. Tempat yang memberi mereka kehangatan. Hangatnya pelukan kasih sayang Tuhan kepada hamba-hamba kecil-Nya.

“Tapi aku sangat bangga denganmu. Ternyata masih ada manusia sepertimu di dunia yang semakin hari semakin bobrok ini,” untaian kata berhasil kulafadzkan. Mengagumi sifatnya. Sikap seorang pemuda Islam yang sukar dicari. Yang amat mencintai anak-anak bangsanya.

Sebagai seorang mahasiswa Usuluddin di Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, tidak sepatutnya dia berkorban sejauh itu. Tapi, nyatanya dia sungguh luar biasa. Dia berani keluar dari belenggu kebiasaan mahasiswa lain. Dia tidak terkekang dengan kebiasaan itu. Dan kini, dia telah membiasakannya. Berkorban demi mendidik anak bangsa.

Fahmi, bersama sahabatnya, Ali, sanggup meluangkan waktu setiap malam bersama anak-anak jalanan itu. Fahmi dan Ali menyewa sebuah rumah kecil di dekat Termianl Purabaya, terminal terbesar dan tersibuk di Asia Tenggara ini. Tepat di sebelah kanan rumahnya terdapat surau tua yang semakin hilang auranya.

Di situlah Fahmi dan Ali mencurahkan bakti dan tenaga. Mereka berhasil ‘masuk’ dan mengajak anak-anak jalanan itu ke dalam pelukan hidayah-Nya. Mengentas mereka dari jurang kekecewaan dan kesedihan hidup. Fahmi dan Ali mengajar dan membimbing permata-permata bangsa yang tersembunyi itu tentang keindahan Islam. Cahaya yang selama ini masih belum terlalu mereka kenali.

Khairun naas anfa’uhum lin naas. Pendidikan terlalu mahal untuk golongan seperti mereka. Pemerintah tanah air ini terlalu mengabaikan hal itu. Jadi, sudah menjadi tanggung jawab kita untuk mendidik mereka.” Jawab Fahmi diiringi senyuman tipis.

Ternyata dia masih ingat lagi motto itu. Motto sekolah kami dahulu, Madrasah Aliyah Al Anwar. Memang, almarhum KH.
Muhaimin Syuhadi tidak henti-henti mengingatkan kami tentang kata-kata itu. Beliau mahu melihat semua anak didiknya bermafaat bagi umat manusia dalam apa jua bidang yang diceburi. Ternyata, kini aku dapat melihatnya dengan retinaku sendiri.

“Biarpun mereka miskin di alam fanaa ini, namun kita tak boleh membiarkan mereka miskin dan menderita untuk kedua kalinya di akhirat yang kekal nanti.” Kata-katanya menusuk tajam ke dalam lubuk hatiku. Menyedarkan kembali jiwaku yang juga semakin alpa ini.

Kopi Kapal Api kami tinggal separuh. Perbincangan kami masih terus berlangsung. Sementara bulan yang tersepuh perak masih bergelantungan di lazuardi yang cerah. Dipagari cahaya halus kerlipan bintang-bintang.

Tiba-tiba Fahmi berkata, “Aku selalu menyuruh mereka untuk bertanya kepada diri mereka sendiri pada setiap pagi hari.”
“Kau suruh mereka tanya apa?” jawabku yang mulai penasaran dengan argumentasinya.
Apa yang akan aku lakukan untuk mengindahkan hari ini?" Cetus  Fahmi. Aku hanya tersenyum.

*****

Setelah termenung dan terdiam beberapa menit, akhirnya mereka terbangun dari mimpi-mimpi itu. Pancing Samsul bergoyang-goyang! Ada sesuatu yang tersangkut di mata kailnya.
“Cepat-cepat… angkat dengan hati-hati!” perintah Duha.
Samsul berusaha sekuat tenaga memenangkan pancingannya itu. “Hore…!!! Aku dapat !” ujarnya gembira.
“Wah bisa makan ikan bakar malam ini !” kata Bejo. Seekor ikan berukuran selebar tapak tangan orang dewasa berhasil dipancing oleh Samsul.

Belumpun reda kegembiraan mereka, tiba-tiba ada sesuatu yang mengagetkan mereka.
“Apa yang kalian buat di sini, hah?” sergahnya kasar dan dengan intonasi meninggi. Petugas patroli keamanan datang mendekati mereka bertiga.

“Maaf pak…” mulut Samsul tergamam untuk menjawabnya. Dia amat takut untuk berdepan dengan masalah yang menantang seperti ini. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.

Mereka bertiga dalam kekalutan dan ketakutan. Hormon Adrenalin juga sudah diaktifkan. Dan dengan secepat mungkin sepasukan darah merah mengirim hormon-hormon itu ke seluruh tubuh melalui urat-urat arteri. Mempersiapkan diri untuk memecut berlari secepat mungkin. Hanya tinggal menunggu masa yang sesuai. Ya, menunggu saat yang sesuai…

“Maaf-maaf !!! apa kalian nggak bisa baca tulisan itu, ha?” bentak si petugas itu. Sambil telunjuknya menuding ke arah papan tanda yang bertulis Dilarang Memancing!.

“Oh… kami bukannya memancing, pak!” dalih si Bejo dengan nada tegas.
“Bukan memancing? Lalu apa itu? Kail, cacing…” petugas keamanan itu mulai semakin beremosi.
“Kami cuma melatih cacing kami berenang di sungai ini, pak!” jawab si Bejo diikuti oleh gelak tawa mereka bertiga. Mereka bergegas melarikan diri secepat mungkin sambil memegang perut masing-masing menahan tawa.

No comments:

Post a Comment