Wednesday, 19 September 2012

RAN?


“Aduh. banyaknya kerja-kerjaku yang masih terbengkalai..,” gumamku sambil melihat selerakan kertas-kertas kusam yang memuat bahan-bahan untuk menggarap artikel dan cerpen. Terbiar lusuh di dalam timbunan kertas-kertas madah kuliah. Kulirik senarai tajuk projek beberapa artikel yang mesti kusiapkan pada softboard di depanku. Islamisasi Bukanlah Arabisasi, Merdekakah Kita?, Hilangnya Cendekiawan-cendekiawan Muslim dan Menanti Kebangkitan Islam. Semuanya empat tajuk. Ditambah beberapa kerangka cerpen yang belum bertajuk, masih dalam proses pengumpulan beberapa isi dan bahan ‘pemanis’ untuk mengolahnya.

Walaupun hari-hari disibukkan dengan rutinitas kuliah yang padat, kutetap memujuk diri sendiri untuk berusaha memposting beberapa tulisan di alam maya. Sekedar selingan, biar fikiran tak tepu atau jumud. Lagipun pintu-pintu dakwah kan pelbagai, jadi tak ada salahnya kuceburi bidang yang satu ini.

Bagi penulis amateur murahan sepertiku bisa posting karya di blog pribadi itupun sudah cukup membuat hatiku lega, dan bahagia pastinya. Di celah-celah kesibukan itu kukumpulkan sedikit demi sedikit  beberapa bahan yang kuperlukan. Biasanya aku pinjam buku-buku dari kawan-kawan aku. Tempoh masa yang mereka bagi memang lebih lama berbanding dengan perpustakaan yang hanya 2 minggu saja. Itu satu keuntungan kalau dapat berkawan dengan ulat buku. Ya, aku menggunakan kesempatan, bukannya ‘memperguna’ pun.

Tingkap bilik kusibak luas-luas. Kuliat hijau, sejauh saujana mata memandang. Ilalang tampak basah kedinginan. Diam tak bergerak, karena angin belum datang mengajaknya menari. Embun bening pagi laju menyergap pori-pori epidermisku. Sejuk!

Gerimis masih bermain di luar sana. Jatuh beramai-ramai memandikan bumi yang dahaga. Sementara bukit-bukit yang berjajar di sekeliling kawasan ini masih diselimuti kabus yang merendah. Mengaburi pandangan mata. Segerombolan Cumulusnimbus bergelayut di angkasa, sedikit berarak perlahan. Memuntahkan tangisannya.

Di dalam bilik ini, lagu ‘Tekad’ yang disuarakan oleh Izzatul Islam terus berdendang mengusik telinga.  Kurebahkan punggung di atas kursi plastik yang sudah nampak pudar kulitnya. Sambil menghadap laptop Toshiba tua ini.

Bulb!! Tanda hijau di chatting room Facebook-ku menyala.
“Ran?” Perempuan manis berdarah kacukan Jawa-Belanda yang mengutus pesan. Lama benar aku tak berkomunikasi dengannya. Walaupun dia telah menjadi ‘Friend’ tapi sejatinya aku belum pernah chatting dengannya. Bukan apa, sebab dia perempuan non-muslim. Jadi aku fikir tiada apa-apa yang perlu aku tanyakan. Aku takut terpengaruh dengan dakyah-dakyahnya! Itu saja.

Aku mengenalinya di sekolah menengah kami dulu, saat itu dia masih berumur 15 tahun. Lebih muda dua tahun dariku. Kebetulan dia pernah menjadi lawanku di separu akhir saat aku menyertai pertandingan catur peringkat sekolah. Detik itulah aku mulai mengenalnya.

“Ada apa?” balasku.

“Aku tahu kau seorang Muslim. Sebagai orang yang berlainan agama, terlalu banyak perkarta yang ingin aku tanyakan padamu,” Kata-katanya datar. Ku menggeliat memulas kursi. Menanti kata-kata seterusnya.
“Kalian melaksanakan solat wajib 5 kali sehari, kan? Menyembah Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan yang ghaib. Dia Wujud namun tidak berbentuk, tiada sesuatu pun yang menyerupai-Nya.” Sambungnya.

Aku semakin tercengang. Bagaimana Ran tahu semua itu? Jangan-jangan Ran telah mempelajari luar dalam tentang Islam. Sungguh aneh mahasiswa Institut Teknologi Surabaya ini. Aku tetap menanti ayat selanjutnya.

“Tetapi mengapakah kalian menghadap Kakbah? Bukankah itu berarti bahwa kalian menyembah Kakbah? Kalau menyembah Kakbah berarti Kakbah itu berhala.” Dia melontarkan soalan yang benar-benar membuatku terkejut

“Katanya Islam itu agama yang benar, tidak menyembah selain Allah, tapi mengapa kalian melakukannya?” Pertanyaan bertubi-tubi muncul di sreen laptop pemberian ayahku ini. Dahiku  berkerut. Tak henti-hentinya aku menggaru rambut kepalaku yang tidak gatal.

“Argh..bingung juga ya mau jawab soalan begini,” Kubelum berani merespon pesan-pesannya.
“Erm, beri aku sedikit waktu untuk berfikir..” pintaku.

Segera kuraih mushaf terjemahan Al Quran yang tak jauh di sebelah kananku. Kubelek helaian demi helaian. Muka surat 19. Muka surat 22. Kurenung sekejap sambil memanggil-manggil ingatan lama.
Beberapa minit kemudian.


“Baiklah, memang benar kami solat menghadap Kakbah. Itulah perintah Allah kepada kami umat Islam. Buktinya bisa dibaca di dalam Al Quran 2:125 dan juga Al Quran 2:144. Kami, selaku hamba Allah, hanya dengar dan patuh saja terhadap apa jua perintah-Nya. Karena bagi kami, Dia Yang Menciptakan kami, Menciptakanmu dan juga Sang Pencipta seluruh alam semesta ini pastinya lebih mengetahui apa yang terbaik bagi ciptaannya.”

Kucuba menyusun ayat sebaik mungkin. Aku tak ingin membuatnya tersinggung atau berasa sakit hati oleh ayat-ayatku.

Di luar sana mentari muylai merangkak naik. Memanjat cakerawala yang redup. Sudah masuk waktu Duha pastinya. Bau harum tanah yang basah dan rumput hijau selepas hujan menyeruak memasuki rongga hidungku. Segar.

Fikiranku tertumpu kembali. “Kakbah bukanlah berhala, Ran. Ia adalah Kiblat. Sebagai penyatu halatuju seluruh umat Islam di serata penjuru dunia ini. Hakikatnya kami tetap menyembah Allah, Tuhan Yang tiada sekutu bagi-Nya.” Terangku kepadanya. Aku terdiam menanti respon.

Hijau!
“Aku masih tidak bisa menerima jawabanmu itu. Tidak logik langsung!” Sergah Ran.
“Ah.. Susah betul berbahas dengan orang Rasionalist nih..” Aku menggerutu sendiri.
“Bagiku, kalian tetap sama saja seperti penyembah berhala!” Ran kembali menyerangku. Agaknya masih belum berpuas hati dengan jawaban yang aku berikan tadi.

Memang agak susah bagiku untuk menjelaskan perkara agama secara logik. Karena tak semua perintah agama itu bisa dinalar dengan akal. Sebab iman itu mengatasi akal! Akal mesti tunduk kepada iman sekiranya berlaku pertembungan yang sukar dijangkau oleh pemikiran akal. Sebagaimana akal agak sukar untuk mempercayai peristiwa Israk Mikraj yang terjadi hanya dalam masa sekejap saja. Sungguh! Jika tiada pagar-pagar keimanan yang membentengi jiwa raga, nescaya akal akan terus memberontak.

Aku teringat ulasan Syeikh Muhammad Al Ghazali berkenaan akal di dalam salah satu karya agungnya, Warisan Pemikiran Islam Menurut Syarak dan Akal. Beliau berpendapat, di dunia yang sangat luas ini tidak ada lagi sesuatu yang berharga selain akal yang tunduk dan bersujud di hadapan keagungan Allah, seraya berkata : Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Agung.

Baiklah, aku akur. Tapi takkan semudah itu untuk menyerah terhadap intimidasi Ran. Kuselongkar beberapa helaian kertas coretan lama di dalam lemari. Mencari kertas kerja seminar Comparative Religion yang pernah disampaikan oleh Brother Shah Kirit beberapa tahun lepas. Seingat aku dulu beliau pernah menjawab soalan sebegini dengan hujah logik akal.

“Hm..dapat!” Kubaca sejenak tulisan-tulisan buruk yang tercatat di tepi kertas kerja tersebut.
“Oke, aku faham.”
“Baiklah, Ran!. Aku ada beberapa bukti yang rasional yang membuktikan bahwa Kakbah bukanlah berhala.” Jawabku tegas. Aku harap  Allah membukakan pintu kefahaman Ran.
“Jelaskan!” kata Ran.

“Yang pertama, orang Muslim tidak berdosa menaiki bahagian atas atau atap Kakbah. Tentu kau sendiri pernah melihat sebahagian pembesar-pembesar di Masjdil Haram berdiri di atas Kakbah,” Kujelaskan satu per satu.
“Tapi apakah kau pernah melihat penganut-penganut agama selain Islam yang berdiri di atas berhala sembahannya? Pastinya tidak!” Kulontarkan balik paku keras kepada Ran.

Aku menyambung hujah. “Seterusnya, ramai umat Islam yang memijak-mijak gambar Kakbah. Lihat saja sejadah-sejadah bercorak gambar Kakbah yang terhampar di masjid-masjid atau di mana jua. Sekiranya Kakbah itu sembahan umat Islam tentu mereka takkan memijak-mijak gambarnya. Betul?” Aku harap Ran dapat menerima rasionalku ini. Berfikirlah kawan! Semoga hatimu terbuka.

Belum sempat Ran merespon, aku segera mengukuhkan hujah-hujah yang kulontarkan. “Ketiga, sekiranya ada segolongan manusia yang cuba membina Kakbah lain, yang lebih hebat, lebih indah dan lebih megah daripada Kakbah yang berada di Masjidil Haram, nescaya sekali-kali tidak akan ada umat Islam yang memalingkan wajahnya dari Kakbah di Masjidil Haram. Kakbah yang menjadi kiblat umat Islam sejak zaman Rasulullah saw, sehingga kini dan selamanya.”

Aku rasa sudah cukup bagiku mengemukakan tiga bukti yang rasional tersebut. Kalau Ran masih saja bertegang untuk menolaknya, entahlah. Sudah pasti otak ini akan terbantai dengan soalan-soalan maut seperti itu.

“Bagaimana Ran?” Aku cuba memastikan pendiriannya. Sepi. Tiada Jawaban.
“Ran, kau masih ada di situ?” sekali lagi ku bertanya.
“Ya..aku masih di depan laptop ini lagi,” Ran merespon.
“Untuk saat ini aku terima jawabanmu,” Tambahnya.
“Hah, Alhamdulillah!” Bisikku pada hati sendiri. Seakan aku merdeka dari pergelutan hujah-hujah tadi. Anganku melayang, terbang tinggi ke ufuk dunia. Ringan, bagai hilang segala beban!

“Tapi jangan terlalu bergembira dulu.” Ran tiba-tiba mengirim pesan.
Apa? Kata-kata Ran itu seakan merampas senyumku sebentar tadi!
“Aku ingin kau jelaskan padaku seputar fakta-fakta sains kontemporari yang terkandung di dalam kitab sucimu itu,” pintanya manja.

“Argh!! Lagi-lagi kau meminta sesuatu yang sukar kubuat. Awas kau Ran!” balasku.
“Hm, maaf.. tapi sepertinya aku telah jatuh hati…” Tak kuduga Ran berani mengirim pesan sebegitu kepadaku.

Aku jadi serba salah dibuatnya. Ah gawat, bagaimana mungkin aku bisa terjebak dalm kondisi macam ini? Kacau! Kutunggu pesan seterusnya tapi tidak segera muncul.
Kuberanikan diri untuk bertanya, agak berat jemariku menekan-nekan papan kekunci laptop ini.
Aku paksa juga, “Jatuh hati kepadaku??”
Ah, malunya aku bertanya soalan bodoh seperti itu. Entah akan kusembunyikan di mana wajahku ini.

Bulb! Hijau ! Ran membalas.
“Jatuh hati kepada agamamu! J
Hah, lega!



Maktabah Darul Quran
Rabu, 19 September 2012
15.40

2 comments:

  1. choirur,mahu jadi penulis bahasa melayu atau bahasa indonesia? :)

    idea yang menarik, tentang comparative religion,tetapi persoalan yang boleh ditambah lagi. seperti yang kita telah pelajari hari-hari lalu,kaitkan apa pun dengan realiti masyarakat semasa.

    ada sinar gemerlap daripada bakat kamu. kekayaan bahasamu satu bonus untuk membuat pembaca menoleh dua kali pada karya kamu.

    menanti karya-karya. selamat menekuni manusia modenisasi.

    ikhlas,
    sahabatmu

    ReplyDelete
  2. Rasanya bahasa tak menjadi masalah. Dalam sastera kita boleh menggunakan kedua-dua bahasa untuk memperkaya kosakata. Lagipun perbedaan Bahasa Melayu di Indonesia dan Malaysia tidak terlalu banyak. Cuma kita mesti tahu di mana letak perbedaan sesuatu kata tersebut biar tidak menimbulkan salah faham masyarakat.

    Untuk perkembangan idea yang akan diangkat dalam karya memang agak susah. InsyaAllah sama-sama pertingkatkan lagi kepekaan terhadap isu-isu masyarakat, sama ada nilai-nilai kemanusiaaan, persekitaran, agama, pendidikan, falsafah dan lain-lain.

    Arigato, :) Kau pun perlu serlahkan lagi sinaran penamu. Tak lama lagi kan meninggalkan bumi DQ. So, tinggalkan apa yang patut. Hidup untuk memberi (Laskar Pelangi).

    Ikhlas (mungkin),
    Junior-mu.

    ReplyDelete